Sejarah

Terbentuknya Tiong Hoa Hwee Koan

(THHK)

Munculnya abad ke-20 bagi perkumpulan Tionghoa di Indonesia sangat penting dari sudut pergerakan Tionghoa. Pada waktu itu keadaan masyarakat Tionghoa di Jakarta belum memperlihatkan banyak cahaya terang, tetapi sebaliknya malah bukan sedikit bayangan gelap penghidupan etika dari kalangan Tionghoa. Selain di antara berbagai golongan Tionghoa tidak nampak kerukunan sebagaimana mestinya, disebabkan oleh propinsialisme yang seolah-olah menciptakan suatu jurang yang sukar diseberangi antara golongan Hokkian, Khe, Kongfu, dll, ditambah tentunya dengan adanya golongan Peranakan, di antara kalangan Peranakan sendiri sulit sekali diadakan suatu semangat kebersamaan. Malah di antara golongan ini, keadaan sudah sedemikian rupa sehingga ada yang menamakan dirinya “anak Patekoan”, “anak Kongsi Besar”, “anak Senen”, dsb yang tidak lain merupakan semacam propinsialisme dalam ukuran kecil.

Perkumpulan-perkumpulan yang bekerja di dalam urusan sosial tidak ada. Di masa itu orang Tionghoa cuma punya beberapa perkumpulan Kematian, di antaranya Cu Hu Tee Beng yang memiliki gedung di seberang Kali Besar, perkumpulan mana sekarang sudah tidak ada lagi, kemudian ada Khu Sin Hap Kit yang didirikan tahun 1869 yang sampai sekarang masih terus berkembang. Lain dari itu, bisa dikatakan tanpa terlalu menyimpang, bahwa perkumpulan-perkumpulan Tionghoa lainnya cuma perkumpulan yang justru sering menimbulkan perselisihan satu dengan yang lainnya.
Keadaan sosial juga tidak bisa memberikan banyak kepuasan kepada orang yang ingin melihat kalangannya bertindak maju. Pesta perkawinan di waktu itu dari golongan elit Tionghoa, untuk contoh, begitu menghamburkan uang dan waktu, sama banyaknya dengan air yang mengalir deras di selokan. Kalau merayakan pernikahan, pesta sudah dimulai sepuluh hari di muka! Tentu saja tidak perlu diuraikan lagi, hari kawin yang sebenarnya akan dirayakan dengan serba mentereng dan mewah. Lalu, setelah acara pernikahan itu lewat, pesta…….berjalan terus! Pada hari ketiga sepasang pengantin keluaur lagi dengan disertai arak-arakan yang tidak kurang ramainya dan menakjubkan.

Kemudian setelah hari ketujuh, kembali rumah orang yang menikahkan jadi pusatnya kemewahan: hari tersebut diselenggarakan acara “Cia Cinkee” dan “Cia Ceem” dan selanjutnya hari untuk mengucapkan terima kasih (Cia Sia). Keadaan demikian tidak-bisa-tidak membuat orang-orang yang berpikiran luas dan sadar jadi tergerak untuk menggulung lengan baju untuk mengubah dan memperbaikinya. Apapula ketika itu pun Tiongkok sedang mengalami perubahan-perubahan besar. Mari kita tujukan pandangan kita ke Tiongkok. Kita akan melihat kejadian-kejadian di sana sama dengan keadaan di Jakarta sebelum didirikannya Tionghoa Hwee Koan. Di Tiongkok pada tahun 1875 mulai bertahta kaisar Kuang Hsu (Guangxi, red.), seorang kaisar yang telah mencoba melaksanakan perubahan-perubahan modern. Rencananya tersebut tidak mendapat persetujuan dari Ibu Suri Tzu Hsi (Cixi,red.). Pada tahun 1898, kaisar Kuang Hsu telah ditangkap atas perintah Kaisarina Tzu Hsi dan sejak itu Kaisar yang penuh ide modern tidak lagi banyak berarti,hingga wafatnya di tahun 1908.

Apakah yang disebut perubahan-perubahan besar di Tiongkok? Yaitu:

Kota-kota yang terutama mendapatkan hubungan telegraf atas prakarsa Li Hung Chang (perdana menteri, red.). Hubungan kawat pertama di Tiongkok telah terbentuk tahun 1881 antara Shanghai dan Tientsin. Berbagai jalan kereta api dibuka, misalnya antara Tangku-Tientsin dan di Formosa. Tapi terjadi juga reaksi terhadap “semangat baru” tersebut, terutama dalam bentuk kebencian terhadap orang asing, atau dalam bentuk yang lebih wacana, memberikan peringatan agar orang tidak membiarkan dirinya terlalu dipengaruhi Barat. Chang Chih Tung, seorang anggota Akademi Hanlin (semacam biro kesarjanaan, red.) pernah menuliskan “Chuen Hsioh Pian” (yang salinan Inggrisnya mempergunakan istilah “China’s Only Hope”) di mana ia mengakui keperluan untuk mengadakan PERUBAHAN-PERUBAHAN MENURUT MODEL BARAT, TAPI JUGA AGAR HAL INI ORANG TIDAK MELEWATI BATAS SEHINGGA TIDAK AKAN MENGINJAK-INJAK TRADISI TIONGHOA YANG SUDAH DIAKUI BERABAD-ABAD, DENGAN PENGAJARAN KHONGHUCU HARUS DIPEGANG TEGUH. (tulisan serupa diambil dari laporan Kwee Kek Beng dalam buku “Beknopt Overzicht der Chinnesche Geschiedenis”, red.).

Reaksi ini dilukiskan juga oleh Ku Hung Ming dalam bukunya “The Story of a Chinese Oxford Movement”. (tulisan mana diambilkan dari penuturan Kwee Hing Tjiat dalam buku “Doe Kapala Batoe”, red.). Antara tahun 1894-1895 terjadi perang Tiongkok-Jepang yang kesudahannya lebih dari sekedar kekalahan bagi Tiongkok saja, melainkan juga membuka mata kalangan Tionghoa mengenai kelemahan Tiongkok. Kemudian orang tiba di tahun 1898, suatu tahun penting dalam sejarah modern Tiongkok. Dalam tahun inilah telah dilakukan suatu aksi yang dikenal dengan sebutan “perubahan dari tahun 1898” yang dikepalai oleh Kang Yu Wei. Menurutnya, situasi sangat tidak menyenangkan yang sedang hidapai Tiongkok pada saat itu, adalah akibat dari kondisi sosial di mana orang sudah tidak lagi mengikuti tradisi dan kesusilaan Tionghoa lampau dan karena orang tidak lagi mampu menghadapi perubahan-perubahan baru.

Menurut kalangan pendorong perubahan tersebut, peraturan pemerintahan, pelajaran dan hukum haruslah diuubah di atas dasar yang memiliki sifat Barat (modernisasi sistem, red.). Di sekolah harus diajarkan ilmu-ilmu pengetahuan yang baru dan murid-muridnya mesti dikenalkan dengan pengertian-pengertian Barat. Kaisar Kuang Hsu menyetujui pemikiran Kang Yu Wei, namun kaum kolot tidak senang dengan perubahan-perubahan yang hendak dilakukan, dan celakanya kaum ini punya pelindung tidak lain dari Ibu Suri Tzu Hsi. Sementara itu, kaum perubahan memandang Ibu Suri tidak lain adalah sutau rintangan bagi kemajuan Tiongkok, sehingga mereka berencana untuk mengurangi kekuasaan Ibu Suri.

Sayangnya semua ini dapat diketahui Ibu SUri yang kemudian bertindak mendahului: Pada tanggal 22 September 1898 Kaisar Kuang Hsu ditangkap atas perintahnya. Karena kejadian ini persis berlangsung selewat 100 hari semenjak Kaisar Kuang Hsu mengeluarkan firman perubahan yang pertama, maka gerakan perubahan di tahun 1898 tersebut disebut sebagai “Perubahan 100 hari”. Kang Yu Wei sempat meloloskan diri dari bencana dengan melarikan diri dan mengembara ke luar Tiongkok. Ia bahkan pernah mengunjungi Pulau Jawa pada tahun 1903 sebagai tamu Tionghoa Hwee Koan, yaitu setelah ia menanyakan dari Penang kepada Tionghoa Hwee Koan apakah perkumpulan ini bersedia menerima kedatangannya di negeri kepulauan ini.

Sedikit waktu sebelum Tionghoa Hwee Koan di Jakarta (teks aslinya adalah Batavia, red.) didirikan, di Tiongkok terjadi huru-hara Pak Kun Tauw (Boxer, red.). Permulaannya sudah terjadi semenjak tahun 1899 di Shantung dan Chili. Keributan Pak Kun Tauw berakhir tahun 1901. Saat keadaan di Tiongkok pada masa menjelang pendirian Tionghoa Hwee Koan dipenuhi bermacam-macam kejadian, pada tahun 1900 pun adalah tahun yang luar biasa di Indonesia (teks aslinya adalah Hindia Belanda, red.), sebagaimana yang Tn. P.H. Fromberg sebutkan dalam bukunya “De Chineesche Beweging op Jawa”.

Fromberg, yang merupakan sahabat Tionghoa, menamakan tahun itu “luar biasa”, bukan saja karena didirikannya Tionghoa Hwee Koan, namun juga karena telah diambilnya keputusan untuk menghapuskan monopoli perdagangan candu dan pegadaian; saat pembuatan percobaan pengaturan candu dan pegadaian, monopoli jagal juga sudah dihapuskan dan dikeluarkan juga dekrit untuk mendirikan bank perkreditan tanah perkebunan. Pada waktu inilah sejumlah tokoh mendapat pemikiran untuk mendiirkan suatu perkumpulan baru di Jakarta, suatu perkumpulan “yang bersifat lain daripada yang lain” atas dasar yang luas dan dengan menyandarkan diri kepada kesusilaan Tionghoa dan terutama pengajaran Khonghucu.

Siapa yang menjadi inisiator untuk mendirikan perkumpulan baru ini, yang akan memikul kewajiban di atas pundaknya sendiri mengenai perubahan-perubahan dalam perilaku kesusilaan dan sosial dari kalangan Tionghoa, memang sulit untuk diketahui dengan pasti. Khouw Kim An, salah satu pengurus Tionghoa Hwee Koan, yang menjadi penyantun perkumpulan, mengatakan bahwa di antara orang-orang yang giat membahas pendirian perkumpulan adalah Tan Kim San, Lie Kim Hok dan Lie Hin LIam yang telah bekerja keras untuk membuat publikasi untuk perkumpulan yang hendak didirikan. Pengerak-pengerak perkumpulan yang hendak didirikan ini, di mana pergerakan Tionghoa di Jawa bisa dikatakan telah dimulai, tidak kenal lelah mengajak penduduk Tionghoa untuk ambil bagian di dalam pergerakan.

Setelah pembicaraan memperoleh kemajuan, pada suatu hari di rumah Phoa Keng Hek di daerah Mangga Besar datanglah berkunjung empat orang yang terdiri dari Tan Kim San, Oey Koen Ie, Lie Hin LIam dan seorang yang namanya tidak diingat oleh Phoa Keng Hek. Mereka menuturkan kehendak untuk mendirikan suatu perkumpulan baru dengan tujuan terutama di dalam hal kesopanan (etika, red.). Untuk menjadi Presiden dari perkumpulan, terpikir untuk mengundang Kapiten Oey Giok Koen. Para tamu meminta Phoa Keng Hek untuk juga ikut ambil bagian dalam pendirian perkumpulan dan mengundang diadakannya pertemuan di salah satu tempat di Patekoan yang sekarang masih ditempati dan menjadi milik Tionghoa Hwee Koan (ini dalam konteks tahun 1940, red.)

Akhirnya bisa diadakan suatu pertemuan pengurus. Sayangnya tidak ditemukan notulensi, namun bisa jadi pertemuan itu dilakukan pada tanggal 17 Maret 1900 atau 17 Ji Gwee 2451. Pertemuan untuk pendirian baru dihadiri Phoa Keng Hek saat sudah dimulai. Ketika ia datang, para peserta sudah mencapai agenda pemilihan pengurus. Oleh peserta pertemuan, Phoa Keng Hek kemudian diangkat menjadi Presiden dari perkumpulan Tionghoa Hwee Koan yang baru didirikan tersebut. Ia menolak dengan keras, namun dikarenakan desakan yang sangat kuat dari peserta, tidak ada jalan menghindar lagi. Lie Hin Liam pada sat itu membujuk agar ia menerima saja pengangkatan itu, karena perkumpulan yang baru dibentuk toh “tidak bisa bertahan lama.”

Oey Giok Koen (kapiten Tangerang, red.) yang sebelum didirikannya perkumpulan sudah disebut-sebut akan diminta menjadi Presiden, telah menolak dengan alasan–menurut keterangan Khouw Lam Tjiang– karena saat itu merupakan Presiden perkumpulan Kematian Cu Hu Tee Beng, sehingga tidak punya banyak waktu untuk memegang tampuk pimpinan Tionghoa Hwee Koan. Kalau dikatakan sulit untuk mengetahui dengan pasti siapa yang berinisiatif mendirikan perkumpulan ini, tidak begitu halnya dengan pendirinya. Pendiri Tionghoa Hwee Koan ada 20 orang……Mereka adalah Phoa Keng Hek (yang meninggal dunia tahun 1937 pada usia 80 tahun), Khoe A Fan, Ang Sioe Tjiang, Kapiten Oey Giok Koen, Oey Koen Ie, Tan Kong Tiat, Lie Hin Liam, Nio Hoey Oen, Phia Lip Tjay, Khouw Kim An, Tan Tian Seng, Ouw Tiauw Soey, Ow Sian Tjeng, Oen A Tjoeng, Lie Kim Hok, Khoe Siauw Eng, Khoe Hiong Pin, Khouw Lam Tjiang dan Tjoa Yoe Tek.

SIAPA YANG TELAH MENGAJUKAN USULAN UNTUK MENGGUNAKAN NAMA TIONGHOA HWEE KOAN?

Yang mengusulkan penggunaan nama ini menurut keterangan Khouw Kim An adalah Khoe Siauw Eng (menurut cerita, nantinya ikut KK Tjong Hwee, red.) Dalam nama ini terkandung rujukan bahwa perkumpulan yang baru didirikan itu HARUS MEMILIKI TUJUAN-TUJUAN MODERN, LAIN DARI PERKUMPULAN-PERKUMPULAN YANG SUDAH ADA. Ada dua peristilahan “Tiong Hoa “. Pada waktu itu istilah Tionghoa tidak banyak dipakai sebagaimana sekarang. Orang Tionghoa sebut diri sendiri “orang Tjina”. Kalau membaca buku cerita Tionghoa dalam bahasa Melayu yang diterbitkan di jaman tersebut, orang sering mendapti istilah “negeri Tjina” buat Tiongkok dan “orang Tjina” buat orang Tionghoa.

Juga dalam Anggaran Dasar dipakai istilah “Tjina” dan bukan “Tionghoa”. Dalam perubahan Anggaran Dasar yang diterima bulat oleh oleh rapat anggota luar biasa pada tanggal 16 Januari 1928 dab disahkan dengan keputusan Sri Paduka Gubernur Jenderal tertanggal 1 Juli 1930, barulah istilah Tjina diganti dengan istilah Tionghoa. Hingga pada saat Tionghoa Hwee Koan baru didirikan dapat dikatakan bahwa namanya tersebut mengandung sifat-sifat modern yang cocok dan sebanding dengan tujuan-tujuan modern yang hendak dicapainya. (ada catatan dari para penulis mengenai Tionghoa sebagai ungkapan umum yang sudah diterima bahkan semenjak jaman purba, red.)

Maksud didirikannya Tionghoa Hwee Koan dilukiskan dalam pasal 2 Anggaran Dasar yang berbunyi:

“Maksud perkumpulan ini untuk mengadakan dan menjalankan suatu yayasan yang mesti menanggung semua biaya sebagaimana diperlukan untuk:

  1. Bikin maju istiadat kalangan Tionghoa, sebisa-bisanya dengan mengikuti aturannya Nabi Khonghucu serta tidak bertentangan dengan adat kesusilaan, dan selanjutnya membuat maju kalangan Tionghoa pengetahuan mengenai surat-menyurat (tulisan, red.) dan bahasa.
  2. Mengadakan dan menjalankan guna memastikan apa yang disebut dalam huruf a di atas, gedung dan sebagainya untuk jadi tempat berkumpul, membicarakan pengurusan perkumpulan dan hal-hal lain untuk keperluan orang banyak, tanpa melanggar Undang-Undang negara.
  3. Mengadakan suatu penghimpunan berbagai buku, yang berguna buat pengetahuan dan pemahaman.”

Jadi, pengajaran Khonghucu menempati kedudukan penting dalam tujuan Tionghoa Hwee Koan, sehingga –sebisa bisanya– akan digunakan sebagai pedoman untuk mengadakan perubahan-perubahan dalam adat-istiadat kalangan Tionghoa. ORANG MENGAMBIL KEPUTUSAN UNTUK MENYANDARKAN DIRI KEPADA UJAR-UJAR KHONGHUCU, TIDAKLAH MENGHERANKAN, KARENA KHONGHUCU SEMENJAK LAMPAU HINGGA SEKARANG DIPANDANG SEBAGAI GURU BESAR BAGI ORANG TIONGHOA, PENGJARANNYA JUGA SUDAH MENDAPATKAN PENGHARGAAN SAMPAI DI LUAR WILAYAH TIONGKOK.

Dalam bulan Juli 1900, pengurus Tionghoa Hwee Koan menyebarkan seruan kepada masyarakat Tionghoa dalam bentuk buku kecil dengan judul “Surat Kiriman kepada Sekalian Orang Bangsa Tjina” tentang sebab-musabab pendirian Tionghoa Hwee Koan, maksud dan tujuan dan pujian kepada pengjaran Khonghucu, antara lain:

“ADA PENGAJARAN BEGITU INDAH DAN TERPUJI DAN DIBERIKAN OLEH KITA SENDIRI PUNYA NABI! MENGAPA KITA TIDAK MENCARI JALAN UNTUK MENDAPATKAN ITU?

Oleh karena mengingat bahwa di antara kita, orang Tionghoa di sini banyak yang belummengenal pengjaran Khonghucu atau petuahnya yang amat baik dan berfaedah besar, maka kami, 20 orang, sudah bersepakat untuk mendirikan satu perkumpulan yang dinamakan Tionghoa Hwee Koan.

Tujuan perkumpulan ini tersebutkan dalam Peraturan yang disahkan Sri Paduka Tuan Besar Gubernur Jenderal dengan firman bertanggal 3 Juni 1900 no. 15 dan dinyatakan juga di dalam Peraturan Perkumpulan yang nantinya akan juga diserahkan kepada Sri Paduka Tuan Besar agar disahkan. Sekarang biarlah kami tuturkan di sini, bagaimanakah niat dan harapan perkumpulan.Pertama, harapan untuk menghilangkan atau mengurangi segala kebiasaan yang memberatkan orang-orang Tionghoa dalam hal kematian dan perkawinan. Penyederhanaan ini nantinya, akan mempertimbangkan hasil rapat pengurus dan ditetapkan dengan suara terbanyak dalam rapat anggota yang akan membahas hal tersebut.

Pengharapan yang kedua, adalah sebagaimana tersebut di bawah ini:

  1. Dalam hal membuat maju alias memperbaiki adat istiadat Tionghoa, maka dengan sebisa mungkin akan diterapkan aturan yang sesuai dengan pengajaran atau petuah Nabi Khonghucu. Pengertian dengan sebisa mungkin adalah sedapat mungkin yang bisa dilakukan orang Tionghoa di Indonesia ini, dengan mengikuti pertimbangan rapat umum anggota.
  2. Dalam hal membuat maju pengetahuan atas surat-menyurat (tulis-menulis, red.) dan bahasa, akan diadakan gedung-gedung sekolah.”

Demikianlah pernyataan resmi pendirian Tionghoa Hwee Koan dan maksud-maksudnya. Harus dicatat bahwa Surat Kiriman itu ditulis bulan Juli 1900, berselang 4 bulan dari saat pendirian Tionghoa Hwee Koan yang sebenarnya yaitu 17 Maret 1900 atau 17 Ji Gwee 2451, sebagaimana ditemukan dalam notulen no. 7 dari Rapat Umum Anggota pada hari Sabtu 13 April 1901 malam, pada butir II agenda, yaitu pengangkatan pengurus baru dikarenakan usia kepengurusan lama sudah lewat satu tahun. Tidak heran dalam Surat Kiriman sudah diutarakan harapan untuk mendirikan sekolah, sementara dalam Anggaran Dasar yang awal, tidak ada keterangan mengenai pendirian sekolah sebagai salah satu tujuan perkumpulan. Tentang maksud tersebut dan daya upaya untuk mencapainya, kita bisa mendapatkan keterangan resmi lebih jauh.

LHW van Sandick yang waktu itu menjadi Pejabat Pengawas Dalam Negeri di bilangan luar Jawa dan Madura dan belakangan menjadi petugas Mahkamah Hindia dan kemudian meninggal di Bandung tahun 1936, ketika sedang cuti di ‘s Gravenhage sempat menulis surat kepada Phoa Keng Hek tertanggal 1 Agustus 1908 untuk meminta keterangan mengenai Tionghoa Hwee Koan. Untuk mendapatkan keterangan yang diinginkannya, van Sandick mengajukan 14 pertanyaan. Surat ini dibicarakan dalam rapat pengurus tanggal 15 September 1908 yang dipimpin Khoe A Fan sebagai ketua sidang. Sebagaimana kebiasaan di waktu itu, untuk menjawab pertanyaan telah dibentuk satu komisi khusus di bawah pimpinan Phoa Keng Hek dengan anggota Kan Hok Hoei (lebih dikenal sebagai HH Kan, red.) Kapiten Khouw Kim An, Letnan Lie Hin Liam, Lie Kim Hok, Tan Tjonmg Long, Ang Sioe Tjiang dan Tan Kim Bo sebagai sekretaris. Komisi ini mengajukan rancangan jawaban dan keterangan di dalam rapat anggota luar biasa t25 Oktober 1908.

Pertanyaan pertama van Sandick: Dengan maksud apa THHK didirikan? Jawab komisi adalah: “THHK didirikan untuk memajukan pengetahuan dan kesusilaan antara orang-orang Tionghoa agar mereka tidak tinggal bodoh atau berdeajat rendah.” Agar lebih tegas, komisi memberikan keterangan lebih jauh atas butir jawaban tersebut. Keterangannya adalah sebagai berikut:

“SUDAH LAMA SEKALI ORANG TIONGHOA MENGINGINKAN HAL TERSEBUT, YAITU MEMAJUKAN PENGETAHUAN DAN KESUSILAAN (etika, budaya, red.). KESUSILAAN YANG TINGGI TELAH ADA DI KALANGAN TIONGHOA BAHKAN SEDAR BELUM DILAHIRKANNYA NABI KHONGHUCU, YANG PADA MASANYA TELAH PULA MEMPERBAIKI KEADAAN KITAB-KITAB ADAT KESUSILAAN SOSIAL DAN LAIN-LAIN. KALANGAN TIONGHOA SEBENARNYA CUKUP DIBUKAKAN SAJA PIKIRANNYA, AKAN MENJADI LEPAS DARI KEBODOHAN DAN KONDISI SOSIAL YANG RENDAH. INILAH YANG MENIMBULKAN GERAKAN DIDIRIKANNYA TIONG HOA HWEE KOAN.”

Keterangan ini, dan juga keterangan lain, dimasukkan van Sandick dalam bukunyak”Chineezen buiten China” (Orang Tionghoa di luar Tiongkok) yang terbit tahun 1909. Begitu juga surat Phoa Keng Hek kepadanya dan Anggaran Dasar Tionghoa Hwee Koan sebagaimana sudah diubah dan disahkan dengan keputusan Sri Paduka Gubernuur Jenderal tanggal 3 Mei 1901 dan 18 Maret 1904. Apabila kita bandingkan keterangan ini dengan bunyi pasal 2 Anggaran Dasar, kita mendapati kenyataan bahwa maksud yang dilukiskan konisi dengan statuta adalah serupa. Satu kekecualian adalah di dalam keterangan dari Komisi tidak disebut-sebut “sebisa-bisanya dengan mengikuti aturannya nabi Khonghucu”, namun ini sebetulnya tidak menjadikannya berbeda sedikitpun, oleh karena orang Tionghoa semuanya menghargai pengajaran yang diberikan Khonghucu. Tapi, di samping itu, kelihatannya ada maksud lain yang membuat pendiri-pendirinya bekerja keras menciptakan Tionghoa Hwee Koan. Hal ini bisa diketahui dari uraian salah seorang pendirinya, yaitu Khouw Kim An yang sekarang menjadi Majoor der Chineezen dan penyantun Tionghoa Hwee Koan.

Saat diadakan acara minum teh untuk merayakan ulang tahun ke-36 THHK pada tanggal 3 Juni 1936, Khouw Kim telah mbuat penuturn ringkas mengenai perkumpulan ini pada saat baru terlahir. Ia mengatakan, THHK semula dimaksudkan untuk merapatkan pergaulan pergaulan di antara kalangan Tionghoa tanpa membedakan propinsi atau kampung asalanya, dengan maskud juga memperbaiki kebiasaan-kebiasaan dari kalangan Tionghoa tersebut (yang dirasakan tidak baik, red.), dan selain itu juga untuk menyebarkan ajaran Khonghucu sebagai tujuan yang utama.

Apakah merapatkan pergaulan kalangan Tionghoa tanpa perbedaan propinsi atau kampung untuk memperbaiki kebiasaan-kebiasaan dari kalangan Tionghoa, juga harus dianggap sama penting dan sama besarnya dengan upaya memajukan adat istiadat dan memajukan pengetahuan kalangan Tionghoa atas surat-menyurat dan bahasa sebagaimana disebutkan dalam anggaran dasar? Sebagaimana diketahui, kalangan Tionghoa di Indonesia terdiri dari beberapa golongan seperti Hokkian, Khe, Khongfu dan sebagainya. Meskipun apabila dilihat dari kacamata kebangsaan mereka itu sama, yaitu dengan cara menyingkirkan propinsialismenya, toh kadang-kadang antara satu dan lainnya muncul hal-hal yang patut disesalkan. Merapatkan pergaulan mereka dengan tidak kenal perbedaan propinsi atau kampung, inilah yang Tionghoa Hwee Koan wajibkan ke segenap kalangan. Dengan melihat susunan pengurus pertama, orang pun bisa mendapati kenyataan bahwa meskipun tidak tertulis hitam di atas putih, adalah salah satu pertimbangan untuk diindahkan. Di dalam kepengurusan pertama, jelas duduk orang Tionghoa peranakan dan orang Tionghoa totok dari berbagai golongan.

Dalam Surat Kiriman, pengurus pun menunjukkana danya dukungan dari berbagai golongan: “Lebih jauh, biarlah kita sebutkan juga di sini, bahwa di saat perkumpulan ini dijalankan, sudah ada seratus hampir 100 orang banyaknya, di antaranya ada orang Khe totok dan peranakan, Hokkian totok dan peranakan, hingga ada juga orang Kongfu yang membantu perkumpulan ini, sedangkan kita punya kepala Tionghoa,

Paduka Majoor Tio Tek Ho adalah penyantun dari perkumpulan ini. Jelas nyata bahwa berbagai kalangan sama-sama bermufakat dalam perkumpulan ini.” TEGASNYA THHK ADALAH SUATU PERKUMPULAN TIONGHOA UMUM, YAITU UNTUK SEMUA GOLONGAN TIONGHOA, YANG TERUTAMA BERGERAK DALAM BIDANG KEBUDAYAAN. THHK hendak memajukan adat-istiadat kalangan Tionghoa, sebisa-bisanya dengan mengikuti ajaran Khonghucu, dan juga hendak memajukan pengetahuan surat-menyurat dan bahasa, untuk mana akan diadakan dan diselenggarakan satu rumah dan sebagainya untuk dijadikan tempat pengurus berkumpul membicarakan hal-hal terkait perkumpulan dan lainnya untuk kepentingan orang banyak, dan terlebih jauh hendak mengadakan suatu kumpulan buku-buku yang berguna bagi pengetahuan dan pemahaman, tegasnya hendak juga mendirikan perpustakaan.

Kelihatan nyata, semula THHK didirikan sebagai satu perkumpulan yang terutama bekerja untuk kesusilaan. Soal pendidikan tidak ada disebutkan dalam anggaran dasar yang pertama. Nyata pada waktu didirikan, orang tidak terpikir untuk bekerja dalam bidang pendidikan. Tionghoa Hwee Koan adalah satu perkumpulan sosial umum, yang bisa disandingkan dengan suatu kelompok belajar untuk merundingkan bermacam hal-hal kebudayaan. Kegiatan pendidikan dimulai satu tahun kemudian setelah berdirinya perkumpulan dan baru belakangan dimasukkan dalam anggaran dasar, yaitu dengan perubahan dan penambahan yang disahkan dengan keputusan Sri Paduka Gubernur Jenderal tertanggal 18 maret 1904. Begitulah, di angkasa Tionghoa telah muncul satu bintang baru, yang akan dengan segera memancarkan sinarnya yang bercahaya DAN MENARIK PERHATIAN DARI SELURUH INDONESIA, BUKAN SAJA DARI SESAMA KALANGAN TIONGHOA, NAMUN JUGA DARI KALANGAN-KALANGAN LAINNYA SEPERTI BELANDA, PRIBUMI DAN LAIN-LAIN. Tiong Hoa Hwee Koan sudah berdiri sejak tanggal 17 Maret 1900 atau 17 Ji Gwee 2451, tetapi perkumpulan ini baru terhitung resmi berdiri pada tanggal 3 Juni 1900, yaitu tanggal keluarnya keputusan dari Sri Paduka Gubenrur Jenderal yang mengakui keabsahan perkumpulan menurut apa yang ditetapkan dalam pasal 3 statuta yang berbunyi, “Perkumpulan ini didirikan untuk d29 tahun dan 11 bulan lamanya terhitung dari harian peraturan ini disahkan Sri Paduka Gubernur Jenderal, hingga perkumpulan ini memiliki hak hukum.” Keputusan ini bernomor 15 dan dimuat dalam “Javasche Courant” 8 Juni 1900 no. 46 (maksudnya adalah semacam pengumuman negara, red.).

Ketika THHK baru didirikan, rupanya perkumpulan ini dipandang dengan curiga oleh Pemerintah. Di dalam statuta dimuat suatu ketentuan bahwa pengawasan akan tetap dilakukan oleh dinas yang bersangkutan, meskipun pengesahan sudah diberikan oleh Gubernur Jenderal. Tapi dalam statuta yang sudah diubah dan disahkan Sri Paduka Gubernur Jenderal tanggal 3 Mei 1901 dan dimuat dalam “Javasche Courant” 10 Mei 1901, ketentuan itu dihapus. Kecurigaan ini bisa jadi disebabkan kekawatiran bahwa perkumpulan ini akan menempuh haluan politik yang tidak diinginkan. Terbukti bahwa kecurigaan itu ternyata tidak beralasan. Sambutan pihak Tionghoa pada pendirian Tionghoa Hwee Koan pun berbeda-beda. Ada yang bergirang dengan perkumpulan yang memiliki tujuan luas ini, tetapi di lain pihak ada juga yang anti.

SIKAP ANTI TIONGHOW HWEE KOAN TERUTAMA MUNCUL DARI GOLONGAN YANG MAU BERKUKUH DENGAN KEBIASAAN-KEBIASAAN DI WAKTU ITU YANG JUSTRU HENDAK DIUBAH ORANG-ORANG YANG MENDIRIKAN TIONGHOA HWEE KOAN. JUSTRU KARENA PERUBAHAN HENDAK DILAKUKAN BERDASARKAN PENGAJARAN KHONGHUCU, GOLONGAN YANG BENCI TIONGHOA HWEE KOAN MENJULUKI PEMIMPIN-PEMIMPIN DAN PENGURUS-PENGURUS THHK SEBAGAI…..ORANG-ORANG MABOK KHONGHUCU!

Di antara keburukan-keburukan dalam masyarakat Tionghoa yang terutama hendak dibasmi –menurut penuturan Khouw Kim An– adalah perjudian. Anggota pengurus dan anggota biasa dari perkumpulan ini dilarang keras berjudi, baik di tempat umum maupun dalam rumah buat iseng-iseng. Dengan cara demikian, nampak pemisahan yang tegas di dalam pesta-pesta Tionghoa antara golongan THHK dan yang anti perkumpulan. Kalangan THHK menjauhkan diri dari kartu dan berkumpul dengan kalangannya saja, terpisah dari yang lain.

Pertentangan antara kedua golongan itu membuat kalangan yang menghendaki perubahan, yaitu pihak THHK dapat julukan “Kaum Muda”, sementara mereka yang tidak setuju dengan gerakan, beroleh sebutan “Kaum Kolot”.”Di antara yang bertanya ada yang bertanya tentang sne Ng dan sne Tjioe. Susah payah penulis menjelaskannya, karena mereka sudah tak mengerti bahasa Tionghoa lagi, apalagi huruf Mandarinnya. Yang perlu ditanyakan, adalah: dari kelompok dialek mana ia berasal? Apakah ia orang Hokkian atau orang Kheq? Kalau Hokkian Ng adalah Ui atau Huang dalam Mandarin, kalau Kheq Ng adalah Gou atau Wu dalam Mandarin.

Jadi pertanyaan saya sne Ng bagaimana menulisnya tidak bisa dijawab tanpa keterangan tambahan. Orang sne Ng di Indonesia belum tentu satu sne. Itulah pentingnya mengetahui kelompok dialek, setelah tahu anda orang Kheq (Hakka) misalnya, baru cari dari daftar sne yang akan dimuat di milis ini, huruf mana yang dialek Kheqnya Ng. Demikian juga orang sne Tjioe. Tanya dulu, ia orang Hokkian atau Konghu? Kalau Hokkian Tjioe adalah Zhou Mandarin, kalau Konghu, Tjioe adalah Tio Hokkian atau Zhao Mandarin. Karena itu penting sekali mengetahui anda berasal dari dialek mana? Kalau sudah tidak tahu sama sekali, coba lihat panggilan di rumah sebelum zaman orba, kalau and memanggil paman asuk dan isterinya sukme, maka anda adalah orang Kheq (Hakka), kalau anda memanggil encek/ancek/acek dan isterinya encim, ancim atau acim, maka anda adalah orang Hokkian. Orang Hokchnia meskipun sangat berhasil dalam bidang ekonomi di Indonesia, tapi jumlahnya tidak banyak, dan kebanyakan menerima dialek Hokkian dalam penulisan nama. Hokchnia sne Lin Mandarin, harusnya Lieng, tapi di Indonesia kebanyakan mereka menggunakan Lim, dialek Hokkian, termasuk taipan Lim Siu Liong. Oleh karena itu ada manfaatnya mengetahui dialek asal anda meskipun anda sudah tak mampu berbicara dengan dialek itu.

Budaya-Tionghoa.Net

Iklan

Tinggalkan komentar anda :) Kata-kata anda mencerminkan nilai diri anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s