INTERAKSI ANTARA KRISTEN DAN RU DAO

Interaksi adalah suatu dinamika, suatu proses yang tidak statis, koordinat kedua fihak terus bergerak. Kita patut melakukan perbandingan secara seksama dengan kurun waktu yang terdefinisi, sistem pembandingan dapat paralel, sekuisensial atau non simetrik. Masyarakat Konfusian sudah mengenal komunitas Kristen sejak munculnya aliran Nestorian, Ini terjadi pada kurun waktu abad VII hingga 12 yakni masa dinasti Sui Tang hingga Yuan. Kendati masa itu pengaruh Nestorianisme sangat kuat khususnya di kawasan Asia Tengah, India dan Mongolia, tetapi aliran ini bukanlah suatu mainstream kekeristenan yang sekarang ada, aliran Nestorian sudah lama menghilang. Kelompok ini dianggap sebagai suatu heresi berdasar gagasan teologis dari Nestorius seorang batrik Konstantinopolis yang terkenal dengan asas diphyseis yang memandang pribadi Yesus Kristus memiliki dua badan yakni tubuh fisik dan tubuh astral berbeda dengan visi gereja aliran Barat khususnya Roma. Cara mereka memandang Konfusianisme juga amat berbeda.

Di Asia Timur Nestorianisme juga banyak berkembang di Mongolia, banyak keluarga elite Mongol beragama Kristen a.l. pendiri dinasti Yuan. Kublai Khan beribu Nestorian, sedang saudaranya IL Hulagu Khan seorang Khan Persia beristri Nestorian, seorang yang menghancurkan dinasti Abbasiyah Islam tetapi keturunannya yang menjadi raja-raja Persia malah menjadi pembela Islam a.l. Timur Lenk (1336-1405) dan berbalik anti Kristen. Akhirnya pengaruh Nestorian memudar. Pusat Nestorian di Ctesiphon, kini Bagdhad, Iraq setelah kota ini direbut pasukan Islam. Gereja Barat malah bersorak dengan matinya Gereja Nestorian. Kalau saja dulu mereka membantu sesama Kristen, rasanya peta politik ummat tidak seperti sekarang ini.

Kristen yang datang kemudian via duet M Ruggierri (1543-1607) dan Matteo Ricci (1552-1610) adalah Kekatolikan dari masa transisi reformasi dan kontra reformasi karena munculnya gerakan kaum Protestan ;1500-1560. Gereja Katolik dilanda krisis yang sangat berat karena sedang diancam kebobrokan internal. Munculnya trio reformator Martin Luther seorang pastor dari Wittenburg, Jerman yang anti praktek indulgensi (penghapusan dosa) lalu Jeans Calvin 1509 -1564 dari Perancis dan Zwingli (Swiss). Rohaniwan Katolik banyak yang terlibat dalam intrik politik saling khianat dan skandal keuangan dan keluarga. Interupsi negara terhadap gereja dan sebaliknya silih berganti. Kekuasaan Roma belum solid bahkan ada lebih dari satu paus. Sementara itu Gereja Prostestan pun jauh dari mantap. Selain friksi dengan Gereja Roma juga terjadi rivalitas diantara sesama reformis.

Tidak lama Paus Gregorius mengadakan gerakan pembaharuan, selibat makin dimantapkan Asas sekularisasi belum dikenal. Ketika itu agama adalah suatu kekuatan politik dengan friksi antara Islam dan Kristen. Bangsa Barat melihat bangsa kulit berwarna sebagai bangsa dalam kegelapan yang perlu diselamatkan. Gereja masih sangat Eropah sentris. Anehnya toh ada persaingan diantara mereka, bahkan sesama katolik dari ordo yang berbeda, karena tujuan agama, dagang dan politik bercampur aduk. Bahkan Katolik Spanyol dengan Katolik Portugal pun berbeda kubu. Perubahan pun terjadi dalam Konfusianisme, dimana Ru Jiao yang ditemui Ricci adalah Neo Konfusianisme. Jadi lagi-lagi suatu dinamika.

Lalu bagaimana dengan Gereja Reformis seperti Protestan dengan teologi yang terkesan puritan, sikap mereka yang datang ke China abad XIX lagi-lagi berbeda. Tak lama kemudian datang Gereja Evangelis seperti Pantekosta, yang lebih vokal. Sementara itu dalam Gereja Katolik sendiri terjadi perubahan besar dengan diselenggarakannya Konsili Vatikan II, dimana Gereja membuka diri dan mulai menunjukkan tanda tanda bisa menghargai keyakinan non Kristen. Paus Paulus menguraikannya dalam bukunya crossing the threshold. Di lain fihak Konfusianisme justru mandeg dengan naiknya kekuatan komunis, kehilangan daya tariknya dimata kaum muda walaupun pernah ada gerakan Gang You Wei untuk merintis kebangkitan Konfusian fase ketiga. Semua lembaga agama hancur berantakkan pada masa Mao dan Revolusi Kebudayaan dengan Pengawal Merah yang absurd. Baru setelah pasca Mao sekarang ada angin baru walaupun masih lemah, tetapi semakin hari semakin kuat. Sekarang ini jumlah ummat sudah mencapai puluhan juta jiwa dan akan semakin naik. Jadi perbandingan suatu kelompok harus dikaji dalam konteks perkembangan kedua fihak.

GEREJA KATOLIK
Katolik zaman abad pertengahan sangat berbeda dengan Katolik zaman kini yang relatif lebih solid. Gereja pada zaman itu menganggap bahwa diluar gereja tidak ada keselamatan extra ecclesiam nulla sallus bahkan tidak ada pewahyuan (revelation) Mengkristenkan semua bangsa adalah tujuan kegiatan missi dengan menghalalkan semua cara termasuk pemaksaan atau intrik. Gereja Katolik membagi kerja imamat kedalam suatu ordo misalnya Ordo Serikat Jesus yang didirikan St. Agustinus, 0rdo Frate Minorum St. Fransiskus dari Asisi dst. yang praktis tidak mengenal Asia Selain ada ordo imamat ada pula bruder (brotherhood) misalnya Budi Mulia, ordo biarawati Fransiskan. Kini berkembang ordo lokal Praja yang dirintis oleh Kardinal Sugiopranoto dari Semarang. Perkembangan ordo lokal menyebabkan lebih baiknya apresiasi pada budaya lokal.

Dalam hal budaya China, kaum misionaris nampaknya tidak pandai membedakan antara agama rakyat China (folk religion/ shenisme) yang memang memuja arwah leluhur ancestor cult bukannya ancestor veneration (memuliakan leluhur). Bahkan awalnya mereka tidak mengenali mana Buddhisme mana Taoisme dan manapula agama rakyat semua mendapat label agama leluhur China. Pada masa itu tanah China adalah suatu terra incognito, mereka tidak mengenal bahasa maka mereka pun tidak mengenal adat istiadat. Beruntung tokoh sekaliber Matteo Ricci adalah pengkaji bahasa yang handal. . Semula mengangap Buddhisme yang memainkan peranan utama dalam kehidupan bangsa China, tetapi kemudian sadar bahwa pemegang kunci filsafat kenegaraan justru kaum Konfusian. Ricci seorang yang menyadari arti penting konfusianisme.

Ricci sangat antusias dalam mempelajari ajaran Kongfuzi, karyanya yang monumental adalah menterjemahkan sebagian dari Lun Yu kedalam bahasa Latin, sayang tidak pernah selesai. Motivasi Ricci mempelajari Ru Jiao tentulah dengan tujuan mencari celah untuk mengkatolikkan rakyat China melalui keluarga istana sebagai point of entry selaras asas cuius regio, llius et religio, rakyat mengikuti agama raja.. Itu sebabnya maka segala cara untuk memasuki kalangan dalam dilakukan a.l. menjadi tutor astronomi dan trigonometrika bagi kaisar Kangxi. Kaisar sebenarnya sangat tertarik mempelajari ajaran Katolik. Tetapi tidak suka jika otoritasnya ditandingi Paus di Roma. Kaisar minta para rahib Katolik menghormati tradisi China seperti ritus arwah leluhur dan ritus sosial lainnya. Ricci memahami China sudah mengenal Allah dengan caranya sendiri. Allah yang disapa Tian atau Shangdi adalah Allah yang spiritual dan monoteis yang tak lain adalah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.
Kesulitan ditemukan ketika mencari posisi Yesus Kristus. Gereja Katolik yang memegang teguh Konsili Nicea yang mengimani keallahan dari Yesus Kristus harus mencari posisi sebagai pribadi yang sehakikat (homoeios) dengan Allah. Kangxi pernah menyatakan bahwa bangsa China menyembah Tuhan yang sama dengan kaum kristiani. Tetapi Paus, tidak menganggap demikian. Untuk itulah digagas istilah Tianzhu yakni Lord of Host. Orang China keberatan karena gelar Tianzhu karena sudah dipakai untuk salah satu Shen dari Daoisme, tetapi Paus tidak peduli sejak itu hukuman dengan Roma menjadi renggang. Orang China menolak pengaruh asing. Baru sekarang ini,2007 kardinal Beijing diakui oleh Roma dan kini sudah ada rekonsiliasi dengan bangsa China. Sekarang ini, 2006-2007 bahkan mulai berkembang suatu teologi baru berdasarkan Kitab Yijing yakni Theology of Change yang merupakan pengembangan dari Theology Process. Firman kristiani didukung oleh falsafah Timur bukan lagi Yunani.

Paus Benedictus XIV yang ketika itu lebih mendengarkan bisikan pastor Dominikan dan Fransiskan dan Agustinian tidak dapat menerima konsep tersebut serta merta melarang ummat Katolik eks China berpartisipasi dalam ritus budaya China. Pendekatan Ricci dilarang dan dinyatakan salah. Kangxi merasa Paus tidak menghormati tradisi China menjadi marah dan mengusir semua rohaniwan katolik. Kegiatan misi baru terjadi seratus tahun kemudian ketika bangsa Itali, Spanyol dan Perancis mendapatkan home base melalui kekuatan senjata di Shanghai. Yang lebih tragis Inggris menekan Kaisar untuk memberi izin lebih luas untuk penyebaran Protestan sambil memaksa konsensi penjualan opium atau candu yang merusak bangsa China padahal alasan mengajak alih agama adalah demi keselamatan (salvation), suatu kontradiksi terang-terangan. itu sebabnya banyak tokoh yang menjadi anti Kristen karena melihat mereka sebagai kaum munafik dan menjuluki misionaris kapal meriam. Persaingan antar ordo dalam Gereja Katolik pun berlangsung sangat ketat. Ordo yang berpangkal dari Portugal berseberangan dengan ordo dari Spanyol. Ordo Serikat Yesus pernah dibubarkan.

Toh akhirnya Gereja Katolik mulai dapat menghargai keyakinan lokal apalagi setelah zaman aufklarung dan Revolusi Perancis (1750-1815) terutama sejak John Lock, Voltaire mulai diakuinya kebebasan beragama dan menyadari bangsa lain pun dalam rencana Keselamatan Allah, ini baru diakui secara tegas seratus tahun kemudian oleh Paus Yohannes ke XXIII sebelumnya Pius XII (1930-1958). Gereja mengakui adanya pewahyuan kepada bangsa-bangsa di dunia bahwa agama-agama non Kristen sebenarnya menuju Allah yang satu jua. Juga mulai muncul teori wahyu (revelation) tidak hanya secara langsung, tetapi juga melalui proses inteleksi sebagaimana kaum Ru Konfusian. Sebenarnya pengaruh dari faham non semitik sudah diakui secara tidak langsung, dengan adopsi filsafat Yunani Romawi dalam bible a.l. dalam Injil Yohanes, perhatikan konsep logos. Juga penyerapan tradisi Persia dalam Taurat dan kitab Daniel. Lalu apa salahnya mengintegrasikan filsafat China dalam katolikisme. Logos dalam Injil Yohannes sama dengan Dao dalam Ru Jiao. Agama Musa pun banyak menyerap agama Mesir kuno.

Konsili Vatikan II (1962), diakui bahwa kabar baik juga tiba kepada bangsa-bangsa dengan cara yang tidak sepenuhnya dalam ruang lingkup karya gereja. Pernyataan yang lebih tegas ada dalam Katekismus Katolik tahun 1998. Secara umum pandangan Katolik sebagaimana yang diuraikan dalam ensiklopedi Katolik mengklasifikasikan Konfusianisme sebagai agama yang tidak begitu dogmatik dan sedikit pewahyuan. Paus Yohannes XXIII kini mendukung dan memuji cara-cara Ricci dalam ensiklik Princeps Pastorum. Kesahan Rujiao sebagai agama diakui walaupun disebutkan agama untuk orang Asia Timur. Secara tersirat disebutkan bahwa Tuhan berkarya diantara para gentile (tak beriman). Gereja baru 50 tahun setelah wafatnya Yesus Kristus membuka diri kepada non Yahudi (kaum tak bersunat).

GEREJA PROTESTAN
Protestan tiba di Cina pada pertengahan abad ke XIX dibawa juga misionaris Robert Morrison dari Inggris bersamaan kedatangan penjajah. James Legge penterjemah Sishu kedalam bahasa Inggris dikirim London Missionary School, sangat dibantu oleh Wang Dao seorang skolar Konfusian sedang keuangan dibantu Thomas Standford Raffles ketika itu di Batavia. Ia pernah bekerja sebagai Kepada Sekolah Raffles School di Malaka dan Singapura. Legge pernah tinggal beberapa bulan di Indonesia. sebagai pastor di PT Timah Bangka. Motivasinya mempelajari agama dan budaya China adalah untuk mengevaluasi sejauh mana bangsa China siap menerima pekabaran Injil. Tetapi dedikasi Legge terhadap studi China sangat luar biasa dan bermanfaat bagi kemajuan studi Konfusianisme baik bagi kaum Konfusian maupun umum. Legge menjadi Profesor Sinologi pertama di dunia setelah ia kembali mengajar di universitas Aberdeen Inggris. Entah sudah berapa ribu orang Barat Kristen yang mempelajari Rujiao sementara orang China sendiri menyia-nyiakannya, contohnya ummat Konghucu Indonesia yang pengetahuannya jauh dari memadai.

Sikap Protestan terhadap tradisi China menolak secara total segala tradisi budaya China dan dikaitkan dengan setan dan iblis, hanya Yesus yang boleh disembah dan tidak ada Jalan Keselamatan diluar Yesus. Keselamatan adalah hasil dari sola fide (iman), sola sacra scriptura (firman) dan sola gratia (rahmat). Tetapi karena dalam Protestan tidak ada hirarki imamat dan tiap denomiasi memiliki organisasi sendiri maka sikap mereka pun bervariasi. Pada dasarnya seorang yang menjadi Kristen harus meninggalkan tradisi budayanya sama sekali.

Toh sikap Protestan sama dengan Katolik, setidaknya sebelum Konsili Vatikan II. Banyak orang China yang menjadi Kristen menjadi pekabar Injil yang gigih sayangnya sambil memberikan informasi yang merusak citra budaya asalnya padahal seringkali mereka tidak memiliki pengetahuan yang benar, modalnya hanya karena matanya sipit. Tetapi belakangan beberapa denominasi berdasar Lutheran, 2002 misalnya Gereja Hongkong juga mulai menyadari dan mulai dapat menghargai setidaknya esensi dari arti tradisi China, mereka memproklamirkan sebagai pewaris dua tradisi besar yakni kekristenan dan Konfusianisme. Banyak Gereja Protestan a.l. Hongkong, Korea dan Indonesia malah mau menyelami Rujiao, dan ini banyak mempengaruhi konsep teologi mereka. Mungkin karena manajemen Gereja sekarang mulai didominasi oleh pimpinan lokal yang toh ingin mempunyai warna sendiri yang tidak harus Barat. Memang Rujiao itu untuk siapa saja, termasuk untuk orang kristen dan Islam

Gereja Evangelis
Gereja ini adalah Gereja yang mengklaim disemangati oleh Roh Kudus, muncul abad ke XIX. Penekanannya pada Yesus yang tidak berubah, dulu, sekarang dan yang akan datang. Pewahyuan dapat bersifat pribadi dan langsung. Sangat aktif dalam mengkristenkan siapa saja masuk kedalam kongregasinya termasuk yang secara formal sudah menjadi anggota Gereja lain. Gereja ini berkembang pesat terlebih dengan musik dengan latar belakang budaya Amerika. Menerima budaya Yahudi, tetapi secara total menolak budaya non Yahudi dan non Kristen, tanpa kompromi. Gereja ini membaca Injil secara langsung dan mengandalkan penerangan langsung (rhema) dari Roh Kudus. Teologinya sangat sederhana, filsafat dan segala pemikiran yang dianggap manusiawi ditolak.

Hingga saat ini gereja ini belum mau menerima budaya lokal manapun. Tidak membedakan antara agama dan tradisi China. Bahkan gereja non evangelis pun sering belum dianggap Kristiani sepenuhnya. Interpretasi terhadap Injil sangat harafiah. Tetapi toh kita perlu memberi kesempatan kepada komunitas ini untuk belajar menyadari bahwa kasih Allah tidak terbatas bagi mereka saja. Tidak dapat disangkal bahwa antara Gereja Evangelis dan Protestan kini saling mendekat. Toh ada juga pemikiran disementara kalangan evangelis untuk tidak terlalu menekankan pembaptisan sebanyak mungkin, tetapi bagaimana agar setiap orang merasakan kasih Allah dalam tradisi budaya bahkan agama masing-masing tanpa secara formal beralih menjadi kristen. Allah tidak pernah memaksakan suatu protokol baku untuk memasuki surga. Jika orang Batavia yang mau ke Buitenzorg saja boleh memilih dari sekian jalan alternatif mengapa ke surga hanya boleh lewat satu jalan ? Lewat Cibinong, Parung atau Citayam yang penting sampai ke Kebun Raya. Kita adalah ummat dari Allah yang satu, kita adalah sesama saudara dari keluarga manusia yang sama. Buah-buah kacang dari polong yang sama, dari pokok yang sama mengapa saling menista. Di hadapan Allah, Bapa kita semua bersimpuh.

Pemberontakan Taiping [1848-1865]
Dari kajian sosiologis peristiwa ini sungguh sangat unik, kaum petani dan rakyat jelata beramai-ramai menggunakan simbol agama Kristen, untuk menentang penindasan kaum Manzhu dan juga memberontak terhadap sistem borjuis dan feodalisme Konfusian. Pemberontakan ini mendapat dukungan luas dan hampir saja berhasil menumbangkan dinasti China. Menurut pemimpinnya Hong Xiuzhuan yang mengaku adik Yesus Kristus, ia turun kedunia untuk menghancurkan sistem pemujaan berhala dari Buddhisme (China) dan mentobatkan banyak orang untuk menerima iman Kristen yang menurutnya berasal dari negeri China. Hong semula adalah skolar Konfusian yang selalu gagal dalam ujian negara membuatnya frustasi. Setelah berjumpa dengan seorang misionaris dan membaca Injil ia lalu beralih agama menjadi Krisiten.

Hong pernah sakit dan mengalami koma, setelah sadar lalu imenjadi sangat militan, ia bercita-cita menegakkan perdamaian agung di tanah China. Anggota perkumpulan ini hidup dengan moralitas yang ketat dan sangat solider terhadap sesama anggota kelompok, hidup mirip dengan sistem komunal yang diamalkan komunitas Kristen Purba. Hong mengabarkan Injil dengan caranya sendiri, yakni menegakkan Kristen dengan cara militer, tidak kurang 2 juta orang China menjadi korban. Semula kaum misionaris dan Barat mendukungnya, tetapi karena khawatir gerakan Taiping akan menjadikan China suatu negeri kuat dan mandiri, Barat malah membantu dinasti Manchu untuk menghancurkan mereka. Artinya penyebaran agama Kristen kendati dianggap perlu, tetapi merupakan tujuan sekunder sesudah cita-cita mencari kemakmuran.

Interaksi Kekristenan dan Konfusianisme
Konfusianisme dan budaya China menyadarkan Barat dan Kristen bahwa Allah berkarya dimana saja, termasuk diluar Gereja. Agama Kristen semakin membuka diri dan mulai bersikap inklusif kepada semua bangsa manusia. Gereja menjadi sadar bahwqa Allah bukan saja Allah Ibrahim, Ishak dan Yakob, tetapi juga Allah Konghucu, Laozi, Sidharta serta Allah si Komar, Allah si Ketut dan Allah Mbok Jumimen serta Allah mbokku dan Mbahmu juga. Allah rasanya kok tidak mau dimonopoli dan surga tidak hanya buat kalangan sendiri. Konsep Konfusian seperti Tianmin (warga dunia) dan Datong (kesatuan ummat manusia) banyak diserap barat. Pemikiran Voltaire dan John Locke mengenai humanisme banyak bersumber dari faham Konfusian. Inilah yang kemudian merembes dalam konsep dasar negara Amerika dan dunia. Bilangan binomial yang diperkenalkan Leibnitz diambil dati Yijing. Catatan observasi Matteo Ricci dan kawan-kawan, dalam bahasa latin banyak mempengaruhi pemikiran Gereja Katolik Roma.

Masyarakat China Konfusian pun banyak belajar dari Barat, terutama dalam hal penegasan keesaan Allah dan hak asasi manusia. Banyak skolar muda yang menyadari sistem feodalisme serta penindasan jender yang harus dibasmi dari tradisi komunitas Konfusian. Munculnya Gang You Wei yang berusaha membangkitkan Konfusianisme dengan ritus baru banyak dipengaruhi Kristen. Agama Konghucu yang coba distimulasinya di Indonesia juga sangat dipengaruhi tata ibadah kebaktian Kristen. Perjumpaan mendewasakan keduanya dan saling membuka prespektif dan memperkaya diri. Kedua komunitas itu saling belajar. Kenapa tidak ? Bagus Toh !

 

(RIP TOCKARY-ZHUO)

Iklan

Tinggalkan komentar anda :) Kata-kata anda mencerminkan nilai diri anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s