Hah, Kotoran Sapi Bikin Masakan Tambah Enak?

 Geliat aktivitas di stasiun Varanasi, India, tampak masih disibukkan dengan para penumpang yang berdatangan pagi ini. Tak ada bedanya dari hari-hari kemarin, turis-turis masih ramai berdatangan.

Pagi ini kami berada di antara kerumunan para calon penumpang yang mengantri di loket. Seperti biasa, sehari menjelang keberangkatan ke kota lain, kami selalu menyempatkan diri untuk pergi ke stasiun kereta api setempat untuk membeli tiket. Tiket menuju Satna dengan mudah kami dapatkan seharga 155 rupee per orang.

Satna Junction terletak di kota Satna, daerah ini merupakan akses paling dekat menuju daerah yang kami tuju selanjutnya setelah Varanasi. Di Khajuraho terdapat banyak situs-situs berharga negara ini, yang membuat India lekat dengan sebutan rumah bagi seni Kamasutera. Maka di desa tersebutlah konon asal muasal kitab Kamasutera lahir.

Setelah urusan perut selesai di Phulwari Restaurant pagi tadi, kami mulai agenda hari ini menuju Banares Hindu University (BHU) dengan autoricksaw. Di antara bajaj yang lalu lalang kami mendapat harga 60 rupee untuk sampai BHU.

BHU merupakan salah satu perguruan tinggi ternama yang dulunya merupakan pusat seni adat dan kebudayaan masyarakat India. Dari semua kota yang ada di India, kota Varanasi terkenal karena memiliki banyak nama dan sebutan. Banarasi merupakan salah satunya, nama ini merupakan pemberian kolonial Inggris saat masih menduduki kota ini.

Sebutan Kashi yang diartikan para pengikut Hindu sebagai kota cahaya juga disandangnya. Adalah nasionalis Pandit Malaviya, sosok penting pendiri dari Universitas tersebut. BHU didirikan sejak tahun 1916. Dari data sensus para siswa tercatat total 15000 siswa, 2000 diantaranya merupakan wisatawan, dengan area kampus yang berbeda dari masing-masing bidang studi.

Tak jauh dari pusat Universitas ini, terdapat museum Bharat Kala Bhavan, museum yang penuh dengan seni karya tulis hingga lukisan, bahkan sebuah galeri seni didirikan di lantai atas untuk mengenang Alice Boner, seorang seniman dan art historian asal Swiss yang terkenal mengabdikan hidupnya untuk kota ini.

Tempat penting lainnya adalah New Vishwanath Temple, yang merupakan replika dari kuil Vishwanath Varanasi yang terkenal dengan kubah emasnya. Konon tempat ini dibangun untuk memenuhi rasa keingintahuan para wisatawan atas keberadaan kuil Vishwanath yang terletak di salah satu ghat di Varanasi tersebut

Menurut kabar, kuil aslinya tersebut tidak terbuka untuk umum, hanya para umat Hindu yang dipersilahkan mengunjungi kuil tersebut, itu pun harus dengan tujuan untuk melaksanakan ritual. Sedangkan New Vishwanath Temple tidak memiliki kubah emas.

Hanya saja, semua yang terdapat di dalam kuil Vishwanath yang asli juga direplikakan di kuil yang baru ini dan terbuka untuk umum. Kuil ini juga tampak penuh dengan orang yang datang untuk melakukan serangkaian konsultasi atau ritual suci. Sejumlah toko-toko suvenir pun hadir meramaikan areal kuil ini.

Demi memuaskan selera makan kami, akhirnya di penghujung sore kami menyusur pada gang-gang sempit menuju depan jalan raya. Kami begitu antusias untuk kembali lagi menikmati menu Pulwari Restaurant untuk makan malam kami.

Konsep kebun pada restoran ini membuat kami merasa nyaman, selain cita rasa dan pelayanannya yang memuaskan. Restoran ini letaknya di pekarangan rumah si pemilik. Beberapa pohon hias pun nampak menghiasi restauran. Uniknya sore itu di sebuah gubuk kecil tampak seorang nenek menarik mata kami. Ia melakukan aktivitas yang agak aneh.

Dari sebuah tumpukan kotoran sapi, nenek itu menempelkannya ke dinding gubuk bata. Setelah kami tanyakan kepada seorang pelayan, rupanya kotoran-kotoran hewan mamalia itu sedang dalam proses dikeringkan, untuk selanjutnya di gunakan sebagai bahan bakar untuk memasak.

Pemakaian kotoran sapi atau kerbau tersebut sudah lumrah di kalangan masyarakat, bahkan dianggap dapat membuat cita rasa masakan menjadi lebih sedap, sama dengan teori bila kita memasak dengan kayu bakar maka makanan makin terasa sedap. Bahkan untuk proses memanggang roti khas India seperti chapati atau nan, prosesnya langsung dibakar di antara kayu dan kotoran bakar tersebut

Iklan

Tinggalkan komentar anda :) Kata-kata anda mencerminkan nilai diri anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s