Liem Sioe Liong Sembunyikan Kakek Megawati


Rabu, 28 September 2011 | 09:03:13 WIB
batavia.com
 – Keragaman suku, agama, golongan dan budaya telah mewarnai dinamika sejarah revolusi Bangsa Indonesia sejak penjajahan hingga kemerdekaan.

PERAN aktif etnis Tionghoa pada  jaman penjajahan hingga kemerdekaan Indonesia, tak banyak yang tercatat. Sehingga, tidak sepopuler nama para pejuang yang melegenda seperti Pangeran Diponegoro,Sisingamangaraja, Pattimura dan lain lainnya.

Padahal, sejumlah nama yang berasal dari etnis Tionghoa mempunyai andil yang tidak kalah pentingnya dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Seperti yang terungkap dalam disertasi Marleen Dieleman seorang warga Belanda. Dia menyebutkan,  pada  masa revolusi, Liem Sioe Liong menyembunyikan seorang buronan Belanda selama setahun, tanpa mengetahui siapa orang yang disembunyikannya. Belakangan terungkap, orang tersebut adalah Hasan Din, seorang tokoh Muhammadiyah  yang juga ayahanda Fatmawati dan mertua presiden pertama Indonesia Soekarno serta kakek mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Liem yang kemudian berganti nama menjadi Soedono Salim, dikenal sebagai salah satu pengusaha keturunan Tionghoa terbesar di masa Orde Baru.

Dukungan Finansial

Twang Peck Yang, secara tegas menyatakan, dukungan yang pertama-tama diharapkan pemerintah Republik Indonesia dari golongan etnis Tionghoa adalah bantuan keuangan. Karena, kondisi finansial republik yang masih sangat muda ketika itu, sangat buruk. Ditambah lagi angka defisit yang sangat tinggi akibat pendudukan Jepang.
Selain memenuhi harapan pemerintah untuk membangun perekonomian Indonesia, para pedagang Tionghoa juga melihat kesempatan, bahwa negara yang baru saja merdeka sangat memerlukan pasokan  barang untuk mempertahankan kedaulatannya, khususnya persenjataan.

Kontribusi masyarakat etnis Tionghoa  juga dilakukan diberbagai wilayah Indonesia. Seperti di Yogjakarta yang pada tahun 1946 sempat menjadi ibukota negara
Setelah terjadinya aksi militer Belanda pertama, Chung Hua Tsung Hui (CHTH) Yogyakarta berusaha mengumpulkan dana untuk republik. Jumlah sumbangan awal yang terkumpul sebanyak Rp. 250.000. Mereka juga mengumpulkan bahan pakaian untuk angkatan bersenjata Republik.

Orang-orang Tionghoa juga banyak menyumbang dalam “Fonds Nasional” yang diketuai oleh, Mr. Soemanang. Partisipasi orang-orang Tionghoa tidak kalah besarnya dalam membantu penyediaan konsumsi. Kemudian, November 1945 dapur umum Palang Merah Indonesia (PMI) harus menyediakan makanan untuk 1.500 orang setiap harinya. Orang-orang Tionghoa ternyata tidak ketinggalan ikut menyediakan makanan.

Bantuan Hukum

Tercatat pula Mr Ko Siok Hie, seorang pengacara yang juga  giat melakukan berbagai aktivitas pro-Republik. Mr Ko Siok Hie banyak membela gerilyawan Indonesia saat ditangkap dan diadili oleh Belanda di Jogjakarta. Mr Ko Siok Hie bersama dengan Mr Soejoedi melakukan pembelaan secara gratis dan akhirnya banyak pejuang yang bebas dan terselamatkan.

Selaku pengacara, Mr Ko Siok Hie juga membela orang-orang yang tidak bersalah dari tuduhan Belanda. Serta  bertindak selaku penghubung logistik antara pihak Indonesia dengan Tionghoa. Sesuai dengan imbauan dua pejabat Republik, Mr.Soemanang dan Mr.Soetopo kepada komunitas Tionghoa Yogyakarta supaya membantu penyediaan logistik bagi para pemuda pejuang. Mr Ko selaku konseptornya mempersiapkan “kue keranjang”, yang diproduksinya sebanyak 10 kuintal.Kemudian menggalang anak-anak kecil sebagai distributornya.

Kemudian, Dr. Sim Ki Ay, yang merupakan salah satu tokoh utama Chung Hua Hui (kelompok elit Tionghoa pro-Belanda) dari masa kolonial. Akan tetapi pada zaman revolusi beliau bersimpati pada perjuangan Republik. Dr Sim terpilih untuk menjadi salah seorang penasihat delegasi Republik Indonesia dalam Konprensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag. Karena berprofesi sebagai dokter Sim Ki Ay ikut terlibat memelihara kesehatan tokoh-tokoh puncak Republik, seperti Sultan Hamengku Buwono IX dan Jenderal Sudirman. Sekaligus bertindak sebagai penghubung antara Sultan dengan komunitas Tionghoa.

Selain berbagai jenis bantuan tadi, tidak ketinggalan pula muncul dukungan sumber daya manusia. Ketika dibuka pendaftaran anggota GEMPAR (Gerakan Untuk Makmurnya dan Patuhnya Rakyat), pemuda-pemuda dari kalangan Tionghoa ikut pula mendaftarkan dirinya.
Menurut penuturan seorang Tionghoa yang pernah bergabung dengan GEMPAR.Dirinya dididik selama 40 hari di Gedung Agung Yogyakarta. Beberapa mata pelajaran yang diberikan diantaranya “Tata Negara” oleh Bung Karno; “Ekonomi Nasional” oleh Bung Hatta dan “Penerangan” oleh Mr Soemanang, Kordinator pendidikan dipegang oleh Winoto Danuasmoro. Mereka berjumlah 600 orang,  kemudian disebarkan ke seluruh Jawa.

Bantuan Bidang Kemiliteran

Sejumlah warga Tionghoa juga  berperan aktif, mulai dari bertempur, penyediaan logistik dan persenjataan, maupun melaksanakan dapur umum bagi prajurit TNI.
Di Kediri dan di beberapa tempat lain di Jawa Timur, juga di Losarang, Jawa Barat mantan anggota Keibtai (kesatuan semi militer Tionghoa yang dibentuk di masa Jepang) aktif memberikan latihan kemiliteran pada laskar-laskar Indonesia.
Di daerah Pemalang, muncul Laskar Pemuda Tionghoa (LPT), yang  mendukung kemerdekaan Indonesia. Tokohnya adalah Tan Djiem Kwan, alumnus Sekolah Tionghoa (THHK) Tegal. Dia giat memberikan kursus anti kolonialisme pada pemuda Tionghoa, mendorong pengibaran bendera Merah Putih, serta berbagai upaya lainnya. Laskar ini memainkan peran penting dalam melucuti balatentara Jepang di Pemalang.

Di Surakarta tercatat pula Barisan Pembrontak Tionghoa. Keterlibatan orang Tionghoa dalam Batalyon Macan Putih, yang aktif bergerak di wilayah-wilayah sekitar lereng Gunung Muria (Tayu, Jepara, Kudus, Welahan).
Orang Tionghoa di daerah-daerah tersebut mengumpulkan perhiasan  untuk dibelikan senjata di Singapura. Mereka juga menyediakan makanan bagi para pejuang yang dibungkus daun jati. Tio Ma Ay, seorang pedagang roti, pura-pura berdagang roti keliling kampung, padahal dia mengirimkan roti kepada para pejuang.

Orang Tionghoa totok yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan juga banyak ditemui. Yang sering disebut misalnya Tong Djoe, yang kemudian menjadi seorang pengusaha besar.
Han Lim Kwang (Han Lian Kuang, 1911-1962), kelahiran Pulau Hainan, Kwangtung yang sudah lama menetap di Makassar. Putranya mengenang Han sebagai seorang yang benci kepada kaum kolonialis Belanda, karena  menindas dan menghisap rakjat Indonesia.
Han membuka warung kopi yang ternyata dijadikan pusat pertemuan rahasia gerilyawan Makassar dari kesatuan Harimau Republik, sekaligus menjadi anggotanya. Han Lim Kwang wafat  Desember 1962 dan mendapatkan kehormatan militer dari Korps Veteran Makassar.0 DK/son

Iklan

Tinggalkan komentar anda :) Kata-kata anda mencerminkan nilai diri anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s